Saturday, July 10, 2010

Antara Keprihatinan dan Kenyataan

Ketika duduk merenung, seringkali terbersit pikiran tentang kenyataan yang ada dalam pendidikan Indonesia, khususnya di Palembang. Sebagai pendidik, ada rasa prihatin mengamati fenomena ini. Suatu fenomena di mana pendidikan tampaknya merupakan sesuatu yang seringkali diprioritaskan oleh orang tua tapi dari sisi peserta didiknya sendiri menjalankan prosesnya (secara umum) belum dengan cara yang sesuai dan mendapatkan hasil yang menggembirakan. Seakan-akan menjalani pendidikan hanya rutinitas yang kurang jelas arahnya.

Saya sempat bertanya kepada beberapa mahasiswa saya tentang alasan mengapa mereka kuliah di program studi tertentu. Sebagian besar tidak dapat memberikan alasan yang mencerminkan tujuan yang jelas. Bahkan ada yang tidak mampu menjawab sama sekali. Bisa jadi tujuan itu belum sempat terpikir sebelumnya oleh yang bersangkutan.

Bagaimana bisa kita berjalan tanpa arah? Bagaimana mungkin mencapai target yang sesuai dengan mata tertutup? Mungkin sebagian orang memiliki kelebihan tertentu yang melebihi orang rata-rata sehingga bisa mengetahui sesuatu tanpa harus melihatnya tapi tidak semua orang begitu.

Menjalani hidup harus memiliki tujuan dan sasaran yang jelas jika ingin mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dengan lebih baik. Untuk mencapai cita-cita dalam arti pilihan profesi di masa depan, kita bisa memikirkannya sebelumnya, membuat rencana, dan menjalaninya sampai tujuan tercapai.

Memang, tidak tertutup kemungkinan adanya peluang yang bisa dimanfaatkan seseorang dalam hidupnya sehingga tanpa pendidikan formal yang memadai bisa menjadi orang yang sukses. Bahkan sebagian orang memandang remeh pendidikan dan menceritakan bahwa dirinya sukses tanpa pendidikan formal yang tinggi. Sebutlah beberapa nama-nama besar yang menguasai bisnis di Indonesia atau di luar negeri. Namun jangan lupa bahwa di belakangnya ada banyak orang yang membantunya untuk menjalankan bisnisnya hingga menjadi besar. Ada banyak orang-orang kompeten yang menjadi pelaksana bisnis yang dibuatnya. Lantas dari mana kompetensi mereka berasal?

Saya agak heran melihat fenomena yang agak kontras antara masa dua dekade lalu ketika saya kuliah di tinggkat strata satu dengan masa sekarang. Kelihatan ada penurunan yang cukup drastis dari sisi kepedulian mahasiswa terhadap kuliahnya. Mahasiswa yang perduli dengan kuliahnya hanya ada di kisaran kurang dari 25% saja. Sebagian besar hanya duduk di ruang kuliah menonton dosennya mengajar. Keterlibatan mahasiswa dalam interaksi ilmiah sangat kurang. Interaksi yang disambut antusias hanya ketika intermezo ringan yang kurang ilmiah saja. Kalau dosennya bercanda maka mahasiswanya akan antusias menanggapi apa yang dibicarakan namun ketika pembahasan kembali ke ranah ilmiah maka kevakuman tanggapan kembali terjadi.

Perlahan saya coba runut apa akar permasalahan yang ada. Dari sisi tingkat kemakmuran masyarakat, tidak ada perbedaan yang menyolok dibandingkan dua dekade lalu. Dari sisi sosial budaya, ada sedikit penurunan dalam hal tatakrama. Dari sisi teknologi, memang ada kemajuan yang signifikan. Sebagian besar masyarakat menjadi pengguna teknologi. Dulu mahasiswa jarang sekali membawa produk teknologi tinggi ke mana-mana. Sekarang berbagai gadget berteknologi tinggi sudah menjadi pelengkap pendukung aktivitas sehari-hari.

Apakah perkembangan teknologi ini yang menjadi penyebab kemunduran mutu mahasiswa? Mestinya justru dengan dukungan teknologi yang lebih mudah diakses dan adanya luapan informasi yang bisa diakses dari mana saja dapat menjadi pendukung kemajuan.

Dua tahun terakhir saya punya pemandangan baru di kampus. Begitu banyak mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas di kampus menggunakan notebook (komputer laptop). Belum lagi mahasiswa yang mengakses internet dari internet corner yang disediakan di STMIK MDP. Tapi sebentar, apa yang sedang dilihat mahasiswa? Apakah para mahasiswa sedang mencari bahan-bahan kuliah atau memperluas wawasan sesuai bidangnya? Ternyata, setelah melihat sebagian besar layar monitor, tampaknya mereka sedang asyik membuka situs jejaring sosial seperti facebook dan ada juga yang sedang asyik memainkan permainan terhubung (online game).

Tidak ada salahnya membuka situs jejaring sosial bahkan aktif menggunakannya. Tidak ada salahnya juga memainkan permainan terhubung. Yang perlu diatur adalah kadarnya. Jika kadarnya berlebihan, mahasiswa bisa kekurangan waktu belajar yang sesuai dengan bidang yang sedang digelutinya.

Ketersediaan akses terhadap informasi yang sekarang mudah didapatkan sebenarnya bisa membawa percepatan kemajuan pendidikan. Kita bisa belajar bahkan tanpa bantuan guru untuk hal-hal tertentu. Jika kita cermat menjelajah internet, ada banyak sekali bahan yang bisa kita pelajari untuk menambah kompetensi kita di berbagai bidang. Sebagai contoh, dengan YouTube saja kita bisa kuliah di mana saja dan mendapatkan pengetahuan teoritis dan contoh praktis akan sesuatu.

Perlu kita sadari bahwa kemajuan pendidikan bisa kita capai jika kita semua perduli. Setidaknya perduli dengan pendidikan kita sendiri, baik formal maupun nonformal. Gunakan alat bantu yang tepat untuk tujuan yang tepat pula.

1 comment:

  1. Terima kasih banyak,pak....
    dengan membaca artikel ini, saya sebagai mahasiswa merasa terenyuh atas kemunduran ini.
    sepertinya kami para mahasiswa telah terhipnotis oleh perkembangan teknologi, dan bisa dibilang kami terlalu manja, karena kami telah terbiasa keinginan kami selalu dituruti oleh orang tua,tanpa menyadari betapa besarnya pengorbanan orang tua. kami telah terbiasa dengan kemudahan, apa yang kami inginkan selalu dituruti dan selalu ada.
    waktunya para mahasiswa mengintrospeksi dirinya sendiri & mulai belajar menghargai waktu & pengorbanan orang tua.
    sehingga kuliah tidak hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai tujuan & media menjadi sukses.

    ReplyDelete