Monday, November 28, 2011

Menjadwalkan Tweet dengan TweetDeck

Twitter merupakan salah satu media sosial yang paling banyak digunakan di dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Bahkan, Indonesia disebut-sebut sebagai bangsa twitter karena pengguna twitter Indonesia yang dominan di tingkat dunia. Boleh dibilang tiada hari tanpa twitter. Penggunaan twitter bukan hanya untuk aktivitas pergaulan pribadi semata. Banyak organisasi bisnis menggunakan twitter sebagai media promosi, mulai dari membentuk citra merek sampai menawarkan barang/jasanya. Para pelaku bisnis lepas (freelancer) juga tidak mau kalah. Mereka juga menggunakan media sosial ini sebagai salah satu cara mempromosikan bisnisnya.

Menggunakan twitter sebagai media promosi gampang-gampang susah. Ada banyak pertimbangan mulai dari konsep, isi, frekwensi, sampai dengan pengikut (follower) target tweet-nya. Penyampaian tweet kepada pengikut juga tidak boleh sembarangan. Frekwensi tweet harus dijaga supaya pengikut tidak merasa jengkel kebanjiran tweet. Menurut beberapa sumber, frekwensi tweet yang wajar adalah 3-5 tweet per jam.

Layanan penjadwal tweet

Jika Anda berminat menggunakan twitter sebagai media promosi, Anda bisa menggunakan layanan web seperti twuffer. Selain itu, Anda juga bisa memilih layanan social media dashboard seperti HootSuite.

Anda juga bisa memilih aplikasi desktop untuk mengelola twitter Anda. Salah satu aplikasi yang bisa Anda gunakan untuk keperluan ini adalah TweetDeck. Aplikasi ini tersedia dalam berbagai bentuk mulai dari desktop sampai aplikasi bergerak untuk ponsel cerdas maupun tablet. Berikut ini saya akan bahas secara singkat cara menjadwalkan tweet dengan menggunakan TweetDeck versi desktop.

TweetDeck versi desktop
Pertama-tama tentunya Anda harus menyiapkan akun twitter Anda. Setelah itu unduh aplikasinya secara gratis dari situs TweetDeck. JalankanAplikasi yang sudah Anda unduh dan instal pada komputer Anda. Lalu Anda  login dengan menggunakan akun twitter yang akan Anda gunakan. 

Anda bisa mulai menuliskan tweet yang akan Anda jadwalkan dengan mengetikkannya pada bidang yang sudah tersedia. Setelah itu klik tombol timer (tanda panah 1) dan set tanggal serta jam yang akan Anda jadwalkan untuk tweet tersebut dikirimkan (tanda panah 2) lalu tekan tombol set time. Lalu tekan tombol yang semula bertuliskan send namun sekarang sudah dilengkapi waktu pengiriman tweet.

Anda bisa menjadwalkan beberapa tweet sesuai dengan frekwensi dan interval yang Anda inginkan. Pengaturan jumlah tweet per jam tentunya perlu jadi pertimbangan mengingat bahwa pengikut akan merasa bosan bahkan jengkel jika melihat tweet Anda muncul beruntun dalam jumlah banyak dengan interval rapat pada timeline mereka.

Saturday, November 26, 2011

HTML5 Test

HTML5 merupakan standar baru yang akan segera merajai dunia maya. Berbagai fitur terkini yang didukungnya begitu menjanjikan pengalaman meramban internet secara memuaskan. Dengan standar yang sekarang, pengalaman yang mengesankan baru akan diperoleh dengan memasang berbagai tambahan (add on) pada peramban (browser) internet namun semua akan didukung secara alami di HTML5. Untuk perangkat bergerak, kemungkinan besar standar ini tak lama lagi akan berlaku. Keputusan Adobe yang menghentikan dukungannya terhadap Flashplayer di perangkat bergerak merupakan indikasi ke arah itu. Lantas sudah siapkah peramban internet Anda untuk menjalankan halaman web dengan standar baru ini?

Saya mencoba menguji peramban yang saya gunakan (Google Chrome) menggunakan pengujian terhubung (online) di situs The HTML5 Test. Pengujian juga dilakukan terhadap beberapa peramban lain baik pada notebook maupun tablet. Berbeda dengan hasil pengujian yang terdapat pada situs tersebut, saya mendapatkan hasil terbaik menggunakan menggunakan notebook dengan peramban Google Chrome (328 and 13 bonus points) sementara dengan menggunakan Opera Next (versi 12 alpha) yang disebut-sebut di situs tersebut lebih jago dari yang lain, ternyata mendapat skor di bawah itu (325 and 9 bonus points). Saya juga menguji menggunakan Mozilla Firefox Aurora terbaru versi 10.0a (26/11/11) maupun Firefox 8.0.1 hanya mendapatkan skor yang lebih kecil lagi (299 and 9 bonus points). Hal ini berbanding terbalik dengan hasil uji produk Firefox di versi bergerak yang justru mendapatkan hasil terbaik.

Skor tersebut dihitung dengan pengujian untuk banyak fitur baru HTML5. Setiap fitur bernilai satu atau lebih nilai. Selain dari spesifikasi HTML5 utama dan spesifikasi lain yang dibuat Kelompok Kerja W3C HTML, tes ini juga memberi nilai untuk mendukung draft dan spesifikasi terkait. Beberapa spesifikasi awalnya bagian dari HTML5, tetapi sekarang dikembangkan lebih jauh oleh kelompok kerja lainW3C .WebGL juga merupakan bagian dari tes ini meskipun tidak sedang dikembangkan oleh W3C, karena memperluas elemen HTML5 kanvas dengan konteks 3d.

Tes ini juga memberi nilai bonus untuk dukungan codec audio dan video dan dukungan SVG atau MathML yang tertanam dalam dokumen HTML biasa. Tes ini tidak dihitung terhadap skor  total karena HTML5 tidak menentukan audio atau video codec yang diperlukan. Juga SVG dan MathML yang tidak disyaratkan oleh HTML5, spesifikasi hanya menetapkan aturan untuk bagaimana konten tersebut harus tertanam dalam berkas HTML biasa.

Selain menggunakan notebook, saya juga menguji dengan menggunakan tablet (Acer IconiaTab A500) dengan sistem operasi Android Honeycomb 3.2. Hasil terbaik didapat dengan menggunakan Firefox Beta maupun Firefox Aurora Mobile yang mendapatkan skor yang sama(314 and 9 bonus points) disusul Opera (283 and 9 bonus points) dan peramban standar bawaan Android 3.2 (215 and 3 bonus points). Setidaknya hal ini menjawab pertanyaan sebagian orang tentang Firefox untuk Android yang tidak pernah mendukung Flash. Mungkin memang sudah dipersiapkan untuk mendukung HTML5 tanpa Flash sama seperti peramban internet dari produk-produk Apple.

Uji pada IconiaTab A500 menggunakan Firefox Beta

Do'aku Terjawab

Angin memapah tubuhku melayang. Melesat dalam rongga langit. Melanglangbuana tak tentu arah. Sesukaku..semauku...

Tiba-tiba rasa lelah menusuk-nusuk punggungku. Tanganku gemetar. Kakiku melemah. Akupun terhempas dan terkapar tepat di ladangku. Ladang yang kering kerontang. Tak ada lagi hijau daun padi dan palawija. Hanya tanah yang retak-retak dan debu. Kumerayap..merangkak...Sedepa demi sedepa mendekati gubukku. Seakan sewindu terlewati hingga jasadku bernaung di dalamnya.



Angin tiba-tiba menggedor-gedor sejadi-jadinya. Mengajakku kembali terbang.Lindu mengguncang-guncang tak kalah dahsyatnya. Menggetarkan gubukku dengan kerasnya. Aku lunglai terpaku di lantai. Yang kubisa hanya terduduk terdiam.

Kucoba angkat kedua telapak tanganku. Kususun kekuatan tuk menggerakkan lidahku. Kucoba mengatur napasku yang berkejaran dengan angin. Pelan-pelan lidahku membentuk ujaran. Kata-kata yang tersusun dalam hati kusuarakan. Serangkaian do'a-do'a mengalun dari mulutku lirih dengan muka tertunduk. Bermunajat aku pada Sang Khaliq. Bermohon aku pada Sang Rahmaanir Rahiim.

"Yaa Raabb.." Halilintar menggelegar menyambut ucapanku. Hempasan angin, getaran lindu, serta teriakan halilintar cukup mengerdilkanku membutir debu. Do'aku bersautan dengan halilintar. Susul menyusul di antara ketakutan dan kekhusyu'an. Seakan halilintar mengaminkan setiap permohonanku. Diriku semakin ketakutan. Napasku berkejaran dengan angin. Degub jantungku mengiringi teriakan halilintar. Kuselimuti tubuhku dengan sejadah. Kugenggam erat butir tasbih seolah takut dicuri halilintar.

Jiwaku mengawang masuk ke alam lain nan hening. Sunyi namun berisi kedamaian dan ketenangan. Suatu suasana yang belum pernah kuhampiri meski dalam mimpi. Suasana yang bahkan tak pernah dilukiskan dalam sejuta puisi. Sejuk..tenang..hening...Aku bahkan tak bergerak menatapi sekitar.

Perlahan tubuhku menghangat dijilati surya. Membawaku kembali pada aroma dunia. Perlahan mataku terbuka. Silau oleh sorotan sang surya yang sudah agak tinggi. Entah berapa lama aku sudah terlentang di udara terbuka.

Tubuhku terasa bertenaga. Kuberdiri melihat sisa-sisa reruntuhan gubukku dan sebuah pohon tumbang. Langit cerah bahkan gerah. Kupandangi ladangku. Ada yang berbeda dari saat terakhir kumelihatnya. Aku keheranan. Daun-daun padi yang baru tumbuh bertebaran membentuk pola di ladangku. Retakan-retakan tanah sudah tergenang tipis oleh air.

Subhanallah. Do'aku terjawab. Meski aku masih belum tahu bagaimana memeliharanya sampai nanti kutuai.

Thursday, November 17, 2011

Aku Lelah...

Dalam sadarku kuberpikir
Apa lagi yang bisa kulakukan?
Semua seakan tak berujung kemenangan
Meski telah berkali diupayakan

Kuterdiam..
Tensiku menurun dengan terpaksa
Nadiku melemah seketika
Percuma...itu kata yang pantas

Aku sudah lelah berupaya
Karena akan sia-sia..

Monday, November 7, 2011

Tak ada ujar dan tanpa aksara

Kesejuta tujuh puluh kalinya kubertanya dalam keheningan
Akan sesuatu yang tak juga kumengerti
Ratusan kitab kubuka lembar demi lembar
Milyaran huruf kuteliti satu demi satu

Tuhan..aku hanyalah manusia biasa
Ku tak bisa mendengar jawabMu
Meski berkali-kali aku melontarkan pertanyaan
Setidaknya aku tak mampu menangkap isyarat



Seringkali kutafakur sambil bertanya dalam hati
Diselingi suara lirihku menyebut namaMu
Bertahun-tahun aku bersabar menanti jawaban
Karena aku hanyalah seorang hamba

Kini kulihat sebuah lukisan
Nampak jelas di mataku
Bisa kubaca goresan-goresannya
Kecuali makna di balik itu

Apakah kini aku mesti berhenti bertanya?
Inikah saatnya aku mencegat getar lidahku?
Haruskah kukatupkan bibirku?
Tak ada ujar dan tanpa aksara

Masih bermaknakah tanya itu sekarang?
Apakah lukisan itu sebuah jawaban?
Bantu aku memahami ini
Atau sekedar melupakan

Ingin kumenangis tersedu-sedu
Namun baru kuingat aku tak lagi punya air mata
Baiklah..biar kumenangis dalam hati
Tapi ternyata hatiku pun tlah tiada

Ingin kumelesat bagai elang di malam hari
Menebas-nebaskan sayapku di tepian awan
Kan ku koyak-koyak atmosfir
Melaungkan tanya tak terjawab

Aku pun jatuh bagai bulu elang mengambang
Pelan..perlahan..dan mendarat mulus di atas duri
Entah rasa sakit atau nikmat yang mendera
Lagi-lagi aku tak tahu ini semua apa...