Kesejuta tujuh puluh kalinya kubertanya dalam keheningan
Akan sesuatu yang tak juga kumengerti
Ratusan kitab kubuka lembar demi lembar
Milyaran huruf kuteliti satu demi satu
Tuhan..aku hanyalah manusia biasa
Ku tak bisa mendengar jawabMu
Meski berkali-kali aku melontarkan pertanyaan
Setidaknya aku tak mampu menangkap isyarat
Seringkali kutafakur sambil bertanya dalam hati
Diselingi suara lirihku menyebut namaMu
Bertahun-tahun aku bersabar menanti jawaban
Karena aku hanyalah seorang hamba
Kini kulihat sebuah lukisan
Nampak jelas di mataku
Bisa kubaca goresan-goresannya
Kecuali makna di balik itu
Apakah kini aku mesti berhenti bertanya?
Inikah saatnya aku mencegat getar lidahku?
Haruskah kukatupkan bibirku?
Tak ada ujar dan tanpa aksara
Masih bermaknakah tanya itu sekarang?
Apakah lukisan itu sebuah jawaban?
Bantu aku memahami ini
Atau sekedar melupakan
Ingin kumenangis tersedu-sedu
Namun baru kuingat aku tak lagi punya air mata
Baiklah..biar kumenangis dalam hati
Tapi ternyata hatiku pun tlah tiada
Ingin kumelesat bagai elang di malam hari
Menebas-nebaskan sayapku di tepian awan
Kan ku koyak-koyak atmosfir
Melaungkan tanya tak terjawab
Aku pun jatuh bagai bulu elang mengambang
Pelan..perlahan..dan mendarat mulus di atas duri
Entah rasa sakit atau nikmat yang mendera
Lagi-lagi aku tak tahu ini semua apa...
Monday, November 7, 2011
Thursday, May 19, 2011
Jiwa yang terdiam
Jiwaku berlari menerobos belantara belukar. Kadang tersangkut unataian ranting, kadang tergores duri, kadang tersayat ilalang. Terus kuterobos tanpa kurasakan perih luka di kakiku yang melelerkan darah segar bercampur debu dan keringat. Ikut menari di antara lambaian daun cemaran, ikut bernyanyi bersama daun-daun bambu yang bergesekan bagai biola tanpa dawai. Sunyi dalam senandung serangga hutan, sepi dalam rapatnya cemara dan ilalang. Kehampaan nan menyayat menghampiri dalam ketenangan jiwaku.
Jiwaku meluncur dalam riak gelombang sungai. Terhuyung mengikuti derasnya air, terhempas satu-satu di bebatuan. Air sungai jernih kadang sedikit memerah kala batu tertumbuk kepala namun segera memudar dan sirna di ramainya buih. Dingin beku membuat mati rasa. Seakan menghentikan aliran darah tuk tak mengucur deras dari luka. Juntaian dedaunan membelai-belai jiwaku yang kadang menghampiri tepian. Garukan ranting-ranting patah berujung tajam mencakar-cakar tinggalkan goresan teratur rapi. Dingin air seakan bekukan otakku. Nanar dalam pandangan, hanya putih dan hijau datar yang nampak. Kupacu degub jantungku, kuterjang gelombang tuk bangkitkan jiwaku melesat keluar dari aliran.
Jiwaku mendongak dan menghujam udara. Mencumbui gelombang awan dengan lekukan-lekukan seksi. Perlahan mendorong naik, sekejap kemudian membanting hingga terhempas di antara lorong-lorong udara. Kunikmati hembusan angin yang menggelitiki halus, memarut pori-pori, hadirkan bunyi bak seruling yang ditiup gembala di tengah padang. Syahdu menghibur jiwa namun hampa dalam rasa. Meski pagi berteman seribu merpati, sore berteman walet, dan malam berteman lelawa
Jiwaku sesat di antara butiran hujan yang mencacah-cacah. Halilintar bersautan dalam nada-nada tinggi melampaui oktaf kedelapan. Gemuruh mewakili bunyi bas menggeram serak. Alam memarahiku, menamparku, mencaci makiku. Beribu nasihat bersautan bagai pantun yang meluncur mulus di jalan tanpa hambatan. Jiwaku terdiam, tertunduk, terpaku, dan terhempas di antara rintik hujan dan hilang dalam nyanyian katak yang berpesta pora
Jiwaku meluncur dalam riak gelombang sungai. Terhuyung mengikuti derasnya air, terhempas satu-satu di bebatuan. Air sungai jernih kadang sedikit memerah kala batu tertumbuk kepala namun segera memudar dan sirna di ramainya buih. Dingin beku membuat mati rasa. Seakan menghentikan aliran darah tuk tak mengucur deras dari luka. Juntaian dedaunan membelai-belai jiwaku yang kadang menghampiri tepian. Garukan ranting-ranting patah berujung tajam mencakar-cakar tinggalkan goresan teratur rapi. Dingin air seakan bekukan otakku. Nanar dalam pandangan, hanya putih dan hijau datar yang nampak. Kupacu degub jantungku, kuterjang gelombang tuk bangkitkan jiwaku melesat keluar dari aliran.
Jiwaku mendongak dan menghujam udara. Mencumbui gelombang awan dengan lekukan-lekukan seksi. Perlahan mendorong naik, sekejap kemudian membanting hingga terhempas di antara lorong-lorong udara. Kunikmati hembusan angin yang menggelitiki halus, memarut pori-pori, hadirkan bunyi bak seruling yang ditiup gembala di tengah padang. Syahdu menghibur jiwa namun hampa dalam rasa. Meski pagi berteman seribu merpati, sore berteman walet, dan malam berteman lelawa
Jiwaku sesat di antara butiran hujan yang mencacah-cacah. Halilintar bersautan dalam nada-nada tinggi melampaui oktaf kedelapan. Gemuruh mewakili bunyi bas menggeram serak. Alam memarahiku, menamparku, mencaci makiku. Beribu nasihat bersautan bagai pantun yang meluncur mulus di jalan tanpa hambatan. Jiwaku terdiam, tertunduk, terpaku, dan terhempas di antara rintik hujan dan hilang dalam nyanyian katak yang berpesta pora
Tuesday, April 26, 2011
Bertanya pada Tuhan
Melayang entah bagai layang-layang putus atau bagai elang.
Menelusuri lekuk udara bergelombang.
Memandang bumi dari kejauhan.
Menembus batas-batas yang sulit dicerna logika.
Melintas di atas kepingan tanda tanya.
Melayang entah bagai layang-layang putus atau bagai elang.
Kutatap canda ceria bocah-bocah kecil membahana.
Tatapan dan tawa polos mereka tanpa dusta.
Seakan tiada pernah ada masalah yang menerpa.
Kubertanya pada Tuhan..akankah kelak mereka bahagia?
Melayang entah bagai layang-layang putus atau bagai elang.
Kulihat perempuan menangis sedih.
Memandangi secarik kertas surat yang basah air mata.
Sebuah keputusan karena suatu kejujuran.
Kubertanya pada Tuhan..apakah kejujuran selalu mesti diungkapkan?
Melayang entah bagai layang-layang putus atau bagai elang.
Kulihat tubuhku terhempas-hempas diterpa angin.
Kuterobos meski terbanting-banting turbulensi.
Berteriak sampai serak..menjerit sampai tenggorokan sakit.
Kubertanya pada Tuhan..di mana letak keadilan?
NB:
Tuhan, beri aku jawaban..meski hanya dalam mimpi...
Friday, April 1, 2011
April Fools Gaya Google
Tanggal 1 April biasa ditingkahi orang dengan suatu kegiatan konyol yang biasa disebut April Fools. Beraneka kekonyolan yang dilakukan orang mulai dari sekedar membuat kebohongan ringan yang langsung bisa ditebak orang sampai dengan kebohongan yang nampak sangat serius yang bahkan bisa menyebabkan kekacauan kalau ditanggapi secara serius. Tidak ketinggalan Google dengan layanan GMail-nya. Pengguna GMail akan ditawari fitur beta dari GMail yang disebut GMail Motion. Link-nya dipasang di sudut kanan atas layar GMail seperti gambar berikut.
Layanan tersebut intinya adalah menggunakan GMail dengan gerakan tubuh. Begitu seriusnya Google menggarap ini sampai-sampai menyediakan halaman khusus yang berisi cara kerja GMail Motion lengkap dengan videonya. Di samping itu disediakan juga pendapat singkat tiga orang yang nampaknya cukup meyakinkan.
Untuk mencoba layanan ini, GMail menyediakan tombol yang seolah akan mengarahkan penggunanya untuk mencoba mulai menggunakan layanan ini.
Jika Anda klik tombol tersebut, Anda akan terperangah. Bukan karena Anda kagum dengan fitur baru tersebut melainkan Anda baru sadar kalau Anda TERTIPU. Jangan tanggapi dengan serius. Tanggapi saja dengan hahaha karena ini memang cuma lelucon April Fools gaya Google. Usaha yang bagus!
Layanan tersebut intinya adalah menggunakan GMail dengan gerakan tubuh. Begitu seriusnya Google menggarap ini sampai-sampai menyediakan halaman khusus yang berisi cara kerja GMail Motion lengkap dengan videonya. Di samping itu disediakan juga pendapat singkat tiga orang yang nampaknya cukup meyakinkan.
Untuk mencoba layanan ini, GMail menyediakan tombol yang seolah akan mengarahkan penggunanya untuk mencoba mulai menggunakan layanan ini.
Jika Anda klik tombol tersebut, Anda akan terperangah. Bukan karena Anda kagum dengan fitur baru tersebut melainkan Anda baru sadar kalau Anda TERTIPU. Jangan tanggapi dengan serius. Tanggapi saja dengan hahaha karena ini memang cuma lelucon April Fools gaya Google. Usaha yang bagus!
Tuesday, December 21, 2010
Keringat Ayah
Aku ingat ketika kecil aku sering menunggu ayahku pulang. Saat kelihatan sosok beliau dari kejauhan, aku berlari menghampiri dan beliau menuntun tanganku sambil berjalan bersisian. Kenangan itu selalu teringat dalam benakku. Meski tak lama aku menikmati saat-saat itu karena beliau lebih sering bekerja jauh dari kami setelah itu. Ayah lebih sering bekerja di luar kota bahkan di luar negeri.
Saat kecilku, aku kehilangan sosok ayah yang dapat kujadikan tempat belajar dan mengadu. Seringkali kucari-cari bayangnya dalam lamunanku. Ada saat-saat aku membutuhkan orang untuk berbicara sebagai sesama lelaki yang tak bisa aku lakukan dengan ibu. Ada saat-saat aku ingin belajar menjadi seorang lelaki. Saat-saat itu aku harus atasi sendiri.
Tapi aku selalu membanggakanmu. Aku memandangmu sebagai sosok yang hebat meski tak pernah terucap dari mulutku. Kau juga tampak menyembunyikan banggamu pada diriku.Aku bisa melihat saat aku lulus masuk perguruan tinggi negeri. Kau fotokopi ukuran besar koran yang mencantumkan namaku sampai lebih dari satu lembar. Waktu aku telah jadi sarjana dan pertama kali bekerja formal, kau tersenyum melihat aku pergi bekerja setiap pagi.
Tak ada sesuatu yang spesial yang pernah kuucapkan untukmu. Tak pernah ada kado istimewa yang pernah kuberi untukmu. Aku memang tak pandai menunjukkan banggaku padamu dan tak pandai berterima kasih padamu. Tapi aku akan selalu menghargai tetesan keringatmu yang kau relakan demi kami. Waktu-waktumu yang kau habiskan tuk mencari nafkah bagi kami.
Aku bangga padamu Ayah. Takkan pernah hilang kebanggaan dan terima kasihku padamu. Meski kau tak pernah tahu karena tak terucap dari bibirku.
Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk mengenang jasa ayah yang selalu mengasihi anak-anaknya meski tak selalu dengan kelembutan yang diberi ibu.
Saat kecilku, aku kehilangan sosok ayah yang dapat kujadikan tempat belajar dan mengadu. Seringkali kucari-cari bayangnya dalam lamunanku. Ada saat-saat aku membutuhkan orang untuk berbicara sebagai sesama lelaki yang tak bisa aku lakukan dengan ibu. Ada saat-saat aku ingin belajar menjadi seorang lelaki. Saat-saat itu aku harus atasi sendiri.
Tapi aku selalu membanggakanmu. Aku memandangmu sebagai sosok yang hebat meski tak pernah terucap dari mulutku. Kau juga tampak menyembunyikan banggamu pada diriku.Aku bisa melihat saat aku lulus masuk perguruan tinggi negeri. Kau fotokopi ukuran besar koran yang mencantumkan namaku sampai lebih dari satu lembar. Waktu aku telah jadi sarjana dan pertama kali bekerja formal, kau tersenyum melihat aku pergi bekerja setiap pagi.
Tak ada sesuatu yang spesial yang pernah kuucapkan untukmu. Tak pernah ada kado istimewa yang pernah kuberi untukmu. Aku memang tak pandai menunjukkan banggaku padamu dan tak pandai berterima kasih padamu. Tapi aku akan selalu menghargai tetesan keringatmu yang kau relakan demi kami. Waktu-waktumu yang kau habiskan tuk mencari nafkah bagi kami.
Aku bangga padamu Ayah. Takkan pernah hilang kebanggaan dan terima kasihku padamu. Meski kau tak pernah tahu karena tak terucap dari bibirku.
Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk mengenang jasa ayah yang selalu mengasihi anak-anaknya meski tak selalu dengan kelembutan yang diberi ibu.
Tuesday, October 12, 2010
Secuil Hati
Secuil hati tinggal tersisa
habis tersayat seiring irama waktu
kuras kepedihan hingga ke dasarnya
tak sanggup saat merasakannya
Secuil hati tinggal terjaga
karena hanya ini yang kupunya
kadang terlalu sensitif merasa
sebab tak seluas hati biasa
Habiskan waktu di ujung malam
sibuk membalut luka lama
agar tak lagi berdarah menganga
cari penawar penyembuh lara
Akankah belati lain akan menyayat
hingga habis potongan yang tersisa
pasti takkan bisa lagi merasa
karena semua tiada tersisa
habis tersayat seiring irama waktu
kuras kepedihan hingga ke dasarnya
tak sanggup saat merasakannya
Secuil hati tinggal terjaga
karena hanya ini yang kupunya
kadang terlalu sensitif merasa
sebab tak seluas hati biasa
Habiskan waktu di ujung malam
sibuk membalut luka lama
agar tak lagi berdarah menganga
cari penawar penyembuh lara
Akankah belati lain akan menyayat
hingga habis potongan yang tersisa
pasti takkan bisa lagi merasa
karena semua tiada tersisa
Sunday, September 5, 2010
Tangis Akhir Ramadhan
Ramadhan sudah berkemas hendak tinggalkan labuhan
Siap lambaikan tangan tuk beranjak pergi
Berat hati melepasnya tinggalkanku sendiri
Kupegang erat ujung jubahnya tertahan
Seketika keharuan menyusup dalam renungan
Menyadari diri yang tak antusias dihampiri
Tak terasa hampir satu bulan disinggahi
Ingin rasanya kumemohon kau bertahan
Ya Rabb...masih saja sesal selalu menyeruak
di akhir bulan suci penuh sesal sesak
dalam kalbu karena tak betah ibadahku
dalam hening tak kerap ku alunkan nama suciMu
Adakah jubah takwa untukku?
Adakah firdaus menjadi tempatku?
Akankah kelak kubertemu RasulMu?
Ampuni aku yang selalu jadi hambaMu...
Subscribe to:
Posts (Atom)
