Showing posts with label Ungkapan Hati. Show all posts
Showing posts with label Ungkapan Hati. Show all posts

Sunday, April 24, 2016

Nol Tanpa Satu

Ketika berbagai tanya muncul
Tingkahi kesendirian tanpa jawab
Pikiran terkuras mencari
Meski tetap tak terjawab

Kususun serpihan-serpihan daun
Mungkin bisa bentuk berbagai aksara
Yang menyusun kata-kata
Tuk bisa temukan jawaban

Darah yang mengalir di bulir-bulir otak
Berselancar dengan manis mengalir
Tapi hanya manuver tanpa hasil
Kembali ke siklus awal

Kukumpulkan seribu nol dan satu
Berbagai kombinasi dipasangkan
Beragam permutasi dikalkulasi
Tetap saja nol tanpa satu


Catatan:
Ternyata nyusun silabus itu gak mudah...

* 6 Maret 2011

Antara aku, kau, dan rembulan

Bulan naik seperempat
Kemilaunya emas menyala
Berjalanku bersamamu dalam hening
Berjarak satu hembusan napas
Detak jantung kita seirama
Mainkan melodi romansa
Kucoba tembus khayalmu
Kureka anganmu
Meski tanpa ujaran terucap
Aura kebersamaan menyatu
Beriringan kita membelah malam
Mengiris angin yang menghadang
Rembulan itu seolah betah menemani
Mengiringi jalan pikiran kita
Menghias segala rasa yang ada
Sejenak senyummu membelai tatapku
Membuai bahagiaku
Perlahan bayangmu menjauh
Kembali ke peraduanmu
Senyum itu tertinggal membekas
Jelas...tersimpan dalam tatap dan pikirku
Kuingin melihatnya lagi esok pagi


*15 Oktober 2011

Monday, August 17, 2015

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku


Tujuh puluh tahun sudah Indonesiaku merdeka. Aku sangat bangga menjadi anak negeri ini. Negeri yang memiliki wilayah geografis yang luas dengan ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Negeri yang kaya akan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cerdas. Negeri dengan keindahan alam yang tiada tara. Negeri dengan keragaman budaya dan agama terbesar di dunia.

Memang negeriku belumlah menjadi negeri yang sangat makmur, juga bukan negeri adidaya tapi aku tetap bangga. Memang bangsaku bukan bangsa tercerdas,juga bukan bangsa paling jenius tapi aku tahu ada banyak orang cerdas di negeriku. Memang negeriku belum menjadi negeri yang sangat maju, juga bukan negeri yang paling terkemuka tapi negeriku cukup diperhitungkan dunia.

Bangsaku juga bangsa yang menorehkan prestasi tingkat dunia. Nama-nama harum juga tercatat sebagai anak-anak negeri yang berprestasi dan terkemuka. Nama-nama yang membanggakan dengan karya dan pemikirian mereka. Habibie salah satunya.

Meski begitu banyak kebanggaan sebagai anak negeri ini, aku juga prihatin dengan perkembangan yang ada. Anak-anak negeri yang cerdas makin sibuk mengorek perbedaan, membuat resah dalam ketenangan, serta gemar mengungkap aib bangsa sendiri dan bukan malah membantu mencari solusi.

Sungguh menyedihkan melihat bangsa ini disuguhi tontonan yang kebanyakan berisi gurauan dalam pelecehan, kelicikan, serta kemunafikan, bukan tontonan yang memperluas wawasan berpikir akan kemajuan. Seolah negeri ini akan dijadikan negeri dengan generasi pelawak yang hanya bisa menertawakan kekurangan orang lain.

Anak-anak muda negeri ini perlu menyadari bahwa negeri ini butuh generasi muda yang handal dan giat belajar. Bukan hanya sibuk memainkan permainan elektronik sepanjang waktu. Bukan hanya bergiat dalam obrolan dan sosialisasi di dunia maya. Dan juga bukan hanya sibuk berfoto selfie.

Mari kita tanya diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa berkarya sebagai anak-anak negeri ini? Bagaimana kita bisa membuat sumberdaya yang berlimpah ini menjadi kekuatan ekonomi dan politik negeri ini? Mari kita berpikir sejenak. Hidup ini tak hanya sekedar gurauan dan permainan.

Monday, April 21, 2014

Kasih Ibuku

Ibuku cemas ketika kecil aku dipatok ayam. Diobatinya luka-lukaku dengan obat merah dan dibimbingnya aku ke tempat tidurku.Begitu juga ketika aku mengalami kecelakaan-kecelakaan kecil lainnya yang tak dapat kuingat lagi berapa kali karena begitu seringnya. Kenakalan-kenakalan kecilku kerap menyusahkan ibu.

Saat aku susah, aku telepon ibuku cuma untuk mendengar suaranya bicara. Seumur hidupku baru sekali aku mengadukan masalah pada beliau. Aku lebih sering menelannya sendiri. Aku cuma ingin mendengar suaranya bicara dan aku menahan sesak di dada dari jauh. Itulah caraku mengadu saat susah.

Hingga kini, sampai aku telah cukup tua ini, aku tak tahu apa yang mungkin pernah membanggakannya yang telah kulakukan. Aku cuma pernah melihatnya cukup bersemangat saat aku wisuda sarjana dulu. Selain itu aku tak sempat mengamatinya.

Saat-saat ingat ibu, yang sering terkenang di pikiranku adalah bahwa aku lebih sering menyusahkannya daripada membuatnya senang. Begitu banyak pelajaran yang beliau ajarkan, petuah yang diberikan, kasih sayang yang dilimpahkan, serta pengorbanan yang dilakukan. Maafkan aku ibu. Aku belum pernah membanggakanmu.

Friday, April 5, 2013

Aku Yang Berpaling

Dua setengah tahun, begitu banyak yang sudah kulewati bersamamu. Dari tinggi dan dinginnya gunung sampai ke sungai. Dalam teriknya mentari sampai dinginnya hujan. Melewati indahnya makan malam termanis dalam hidupku sampai suasana terjalnya alam bebas yang mengesankan. Kau temani aku dalam keseharian dari pagi hingga malam bahkan sampai pagi lagi. Begitu setianya kau temani aku dalam berbagai suasana dan keadaan.

Saat aku begitu antusias menjalani pekerjaan, kau dukung aku dengan berbagai kemudahan. Saat aku kehilangan ide, kau beri aku pencerahan. Saat aku sedih dan sepi, kau jadi teman curhatku. Bahkan saat aku terbaring tanpa daya di rumah sakit dan susah tidur, kau temani malam-malam yang menyedihkan itu.

Kau buat aku tampak cerdas saat aku tak bisa berpikir. Ketika aku kehilangan arah, kau tunjukkan arah yang akan kutuju. Saat-saat kuingin merasa terhibur, kau nyanyikan lagu-lagu kesukaanku. Kau ingatkan aku saat kuterlupa, kau bantu aku mencari makna kata-kata yang tak kumengerti, bahkan kau abadikan saat-saat manis dalam hidupku dengan karyamu. Kau buat hari-hariku menjadi lebih lengkap dengan berbagai cara. Begitu berharganya dirimu.

Bukan hanya dirimu yang begitu. Aku pun senantiasa bercengkrama denganmu setiap waktu. Seakan tak ada bosannya kupandangi dirimu. Seakan tak ada habisnya 'kudandani' dirimu agar selalu nampak cantik mempesonaku.

Namun kini seiring waktu berlalu, dirimu mulai berubah. Begitu cepat kau mengeluh kehabisan energi, lowbatt, katamu. Kau yang dulu tak mudah menyerah, kini seringkali terpaku bisu tanpa gerak. Nampaknya kau telah lelah mengikuti irama dinamisku. Dulu kau begitu cepat bereaksi saat kusentuh, kini tak lagi begitu.

Maafkan aku jika aku harus berterus terang. Sebulan lalu aku bertemu si putih langsing yang cukup mempesonaku. Memang tak seseksi dan semulus tubuh hitam manismu. Memang punggungnya tak bertato elegan seperti di punggungmu. Memang tak bercitra sepertimu tapi membuatku memilihnya. Terpaksa aku membiarkanmu jatuh ke genggaman laki-laki lain meski aku tahu dia takkan memperlakukanmu sebaik yang kulakukan padamu.

Kata kesetiaan memang tak pantas bagi seorang pencinta gadget karena ia akan mudah berpaling ke lain gadget. Selamat berpisah my SG5. Kini my Optimus telah menggantikan posisimu dalam dekapanku.


Friday, November 16, 2012

Somewhere on Earth

Feel like you're far away
Your're in the glass tower and I look at you from a distance
Could we be like this another day more?
We know we belong together but in absence of a piece of sweet smile

Tears fall from the eyes of sadness and loneliness
I'm like a stranger riding a white horse in the middle of nowhere
Have you in my mind but you're not beside me
Have you in my soul but I could not hold you..not even your shadow

I'm lost in the cloud
Longing for the sun
I'm lost in my dream
Wishing me back another morning

#Quoted from "Somewhere on Earth"

Wednesday, September 5, 2012

Hempasan dari lompatan

Sebuah lompatan akan menimbulkan hempasan pada saat kita mendarat..bisa jadi kita mendarat dengan mantap tapi tetap saja tubuh kita merasakan dampaknya yang bisa mengagetkan bahkan menyakitkan.Apalagi kalau kita tergelincir saat mendarat. Dampaknya bisa lebih menyakitkan. Jika kita tidak siap dengan lompatan, berjalan selangkah demi selangkah mungkin dampaknya akan lebih ringan.
Hidup tidak selalu mudah untuk dijalani. Selalu saja ada irama naik dan turun yang amplitudonya bisa berbeda pada setiap orang. Kadang naik turunnya hanya bagai riak gelombang tenang namun kadang bagai laut yang sedang dihantam tsunami. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Keadaan dapat membuat kita melakukan perubahan. Setiap perubahan akan berdampak pada yang mengalaminya. Bisa jadi kita kaget dengan kondisi yang menyenangkan namun bisa jadi prosesnya melelahkan bahkan menyakitkan.
Siapkanlah pikiran dan perasaan kita dalam menjalani perubahan baik perubahan yang kita lakukan dengan lompatan atau selangkah demi selangkah. Berharaplah sepantasnya karena berharap pun punya konsekuensi. Jika yang terjadi sesuai dengan harapan kita maka kita akan senang menghadapinya namun tidak demikian dengan sebaliknya. Jangan pernah berharap jika takut kecewa karena itulah risiko dan konsekuensinya.

Saturday, July 7, 2012

Arwahmu Dirangkul Malaikat

Malam merayap dengan tenang
Konstan tanpa ada penghalang
Jeritan parau burung malam sayup
Serangga malam terguyur embun..kuyup

Napasmu tersekat satu-satu
Bayangan dalam pikiran tempat yang dituju
Kepasrahanmu dalam kesendirian
Lirih do'amu berisi kepasrahan

Lama sudah kau terbaring di sana
Tanpa banyak yang dilakukan
Penantian itu tiada habisnya
Hingga batas waktu diberikan

Melayang arwahmu dirangkul malaikat
Mengantarmu ke alam lain berbekal amal
Begitu tenang wajahmu terlihat
Menuju tempat akhir yang kekal


*Persembahan untuk ayahanda. Maafkan aku yang belum cukup berbakti :(

Sunday, June 24, 2012

Panggilan Adzan

Denyutmu cepat berlari
Aku pun mengejar hadirmu
Cepat tak tertahankan
Dalam irama yang tak ku mengerti
Ku berlari ke sana ke mari
Ku cari yang ku tak pahami
Suaraku parau terisak
Memohon dengan penuh harap
Kau hadir tapi kau tiada
Kau muncul tapi kau menghilang
Lebih cepat dari panggilan adzan
Lebih cepat dari yang kukira

Wednesday, March 28, 2012

Melukis Langit

Kupejamkan mata dan kucoba melukis langit dengan aksara nurani..
Kucorak dengan birama yang bernada sendu dan menyentuh hati..
Kutulis syair 'tuk mencoba membuatmu sekedar berhenti sejenak 'tuk membacanya..
Kugoda matamu 'tuk menatapinya lebih lama dan memahami maknanya...

Fall in Love Time and Time Again

Aku suka berlama-lama menatap bibirmu menari mainkan cerita masa kecilmu..
Menelusuri indah matamu yang pancarkan kasih sayang..
Hingga membuatku menelusuri lorong menuju hatimu..
Menikmati getaran-getaran dari auramu yang menyelimuti ragaku..
Kau dekap aku dengan selimut tak kasat mata saat aku basah kehujanan..
Kau belai aku dengan jemari kasih yang penuh kehangatan...

Dirimu..keindahan yang selalu kusematkan dalam hening kesendirianku..
Memanggilmu untuk mampir ke mimpi-mimpi malamku..
Memberikan hiasan keindahan dalam lelap ke suasana lain yang berbeda..
Tanpamu nelangsa terasa rindukan berdampingan hati denganmu..
Tak sabar ingin hayati mimpi yang kita punya berdua...

I fall in love with you time and time again...
Be mine forever more...

Thursday, March 15, 2012

Bernyanyilah Bersamaku

Bernyanyilah bersamaku
Meski aku tahu suara dan denting pianoku sumbang..
Nada tinggiku tak sampai ke oktafnya..
Dan laguku seolah tanpa ujung

Ketukan jariku tak sampai pada asasnya..
Tempoku kadang tak beraturan..
Jemariku kerepotan mengejar pitch yang berlari..
Tapi kumainkan dengan hati

Aku memang tak bisa mainkan Symphony #9
Tak bisa menyayat hati seperti Fredy Mercury
Tak mampu membuat terhanyut dengan keras lembut
Tapi kumainkan dengan rasa untukmu


Saturday, November 26, 2011

Do'aku Terjawab

Angin memapah tubuhku melayang. Melesat dalam rongga langit. Melanglangbuana tak tentu arah. Sesukaku..semauku...

Tiba-tiba rasa lelah menusuk-nusuk punggungku. Tanganku gemetar. Kakiku melemah. Akupun terhempas dan terkapar tepat di ladangku. Ladang yang kering kerontang. Tak ada lagi hijau daun padi dan palawija. Hanya tanah yang retak-retak dan debu. Kumerayap..merangkak...Sedepa demi sedepa mendekati gubukku. Seakan sewindu terlewati hingga jasadku bernaung di dalamnya.



Angin tiba-tiba menggedor-gedor sejadi-jadinya. Mengajakku kembali terbang.Lindu mengguncang-guncang tak kalah dahsyatnya. Menggetarkan gubukku dengan kerasnya. Aku lunglai terpaku di lantai. Yang kubisa hanya terduduk terdiam.

Kucoba angkat kedua telapak tanganku. Kususun kekuatan tuk menggerakkan lidahku. Kucoba mengatur napasku yang berkejaran dengan angin. Pelan-pelan lidahku membentuk ujaran. Kata-kata yang tersusun dalam hati kusuarakan. Serangkaian do'a-do'a mengalun dari mulutku lirih dengan muka tertunduk. Bermunajat aku pada Sang Khaliq. Bermohon aku pada Sang Rahmaanir Rahiim.

"Yaa Raabb.." Halilintar menggelegar menyambut ucapanku. Hempasan angin, getaran lindu, serta teriakan halilintar cukup mengerdilkanku membutir debu. Do'aku bersautan dengan halilintar. Susul menyusul di antara ketakutan dan kekhusyu'an. Seakan halilintar mengaminkan setiap permohonanku. Diriku semakin ketakutan. Napasku berkejaran dengan angin. Degub jantungku mengiringi teriakan halilintar. Kuselimuti tubuhku dengan sejadah. Kugenggam erat butir tasbih seolah takut dicuri halilintar.

Jiwaku mengawang masuk ke alam lain nan hening. Sunyi namun berisi kedamaian dan ketenangan. Suatu suasana yang belum pernah kuhampiri meski dalam mimpi. Suasana yang bahkan tak pernah dilukiskan dalam sejuta puisi. Sejuk..tenang..hening...Aku bahkan tak bergerak menatapi sekitar.

Perlahan tubuhku menghangat dijilati surya. Membawaku kembali pada aroma dunia. Perlahan mataku terbuka. Silau oleh sorotan sang surya yang sudah agak tinggi. Entah berapa lama aku sudah terlentang di udara terbuka.

Tubuhku terasa bertenaga. Kuberdiri melihat sisa-sisa reruntuhan gubukku dan sebuah pohon tumbang. Langit cerah bahkan gerah. Kupandangi ladangku. Ada yang berbeda dari saat terakhir kumelihatnya. Aku keheranan. Daun-daun padi yang baru tumbuh bertebaran membentuk pola di ladangku. Retakan-retakan tanah sudah tergenang tipis oleh air.

Subhanallah. Do'aku terjawab. Meski aku masih belum tahu bagaimana memeliharanya sampai nanti kutuai.

Thursday, May 19, 2011

Jiwa yang terdiam

Jiwaku berlari menerobos belantara belukar. Kadang tersangkut unataian ranting, kadang tergores duri, kadang tersayat ilalang. Terus kuterobos tanpa kurasakan perih luka di kakiku yang melelerkan darah segar bercampur debu dan keringat. Ikut menari di antara lambaian daun cemaran, ikut bernyanyi bersama daun-daun bambu yang bergesekan bagai biola tanpa dawai. Sunyi dalam senandung serangga hutan, sepi dalam rapatnya cemara dan ilalang. Kehampaan nan menyayat menghampiri dalam ketenangan jiwaku.

Jiwaku meluncur dalam riak gelombang sungai. Terhuyung mengikuti derasnya air, terhempas satu-satu di bebatuan. Air sungai jernih kadang sedikit memerah kala batu tertumbuk kepala namun segera memudar dan sirna di ramainya buih. Dingin beku membuat mati rasa. Seakan menghentikan aliran darah tuk tak mengucur deras dari luka. Juntaian dedaunan membelai-belai jiwaku yang kadang menghampiri tepian. Garukan ranting-ranting patah berujung tajam mencakar-cakar tinggalkan goresan teratur rapi. Dingin air seakan bekukan otakku. Nanar dalam pandangan, hanya putih dan hijau datar yang nampak. Kupacu degub jantungku, kuterjang gelombang tuk bangkitkan jiwaku melesat keluar dari aliran.

Jiwaku mendongak dan menghujam udara. Mencumbui gelombang awan dengan lekukan-lekukan seksi. Perlahan mendorong naik, sekejap kemudian membanting hingga terhempas di antara lorong-lorong udara. Kunikmati hembusan angin yang menggelitiki halus, memarut pori-pori, hadirkan bunyi bak seruling yang ditiup gembala di tengah padang. Syahdu menghibur jiwa namun hampa dalam rasa. Meski pagi berteman seribu merpati, sore berteman walet, dan malam berteman lelawa

Jiwaku sesat di antara butiran hujan yang mencacah-cacah. Halilintar bersautan dalam nada-nada tinggi melampaui oktaf kedelapan. Gemuruh mewakili bunyi bas menggeram serak. Alam memarahiku, menamparku, mencaci makiku. Beribu nasihat bersautan bagai pantun yang meluncur mulus di jalan tanpa hambatan. Jiwaku terdiam, tertunduk, terpaku, dan terhempas di antara rintik hujan dan hilang dalam nyanyian katak yang berpesta pora

Tuesday, December 21, 2010

Keringat Ayah

Aku ingat ketika kecil aku sering menunggu ayahku pulang. Saat kelihatan sosok beliau dari kejauhan, aku berlari menghampiri dan beliau menuntun tanganku sambil berjalan bersisian. Kenangan itu selalu teringat dalam benakku. Meski tak lama aku menikmati saat-saat itu karena beliau lebih sering bekerja jauh dari kami setelah itu. Ayah lebih sering bekerja di luar kota bahkan di luar negeri.

Saat kecilku, aku kehilangan sosok ayah yang dapat kujadikan tempat belajar dan mengadu. Seringkali kucari-cari bayangnya dalam lamunanku. Ada saat-saat aku membutuhkan orang untuk berbicara sebagai sesama lelaki yang tak bisa aku lakukan dengan ibu. Ada saat-saat aku ingin belajar menjadi seorang lelaki. Saat-saat itu aku harus atasi sendiri.



Tapi aku selalu membanggakanmu. Aku memandangmu sebagai sosok yang hebat meski tak pernah terucap dari mulutku. Kau juga tampak menyembunyikan banggamu pada diriku.Aku bisa melihat saat aku lulus masuk perguruan tinggi negeri. Kau fotokopi ukuran besar koran yang mencantumkan namaku sampai lebih dari satu lembar. Waktu aku telah jadi sarjana dan pertama kali bekerja formal, kau tersenyum melihat aku pergi bekerja setiap pagi.

Tak ada sesuatu yang spesial yang pernah kuucapkan untukmu. Tak pernah ada kado istimewa yang pernah kuberi untukmu. Aku memang tak pandai menunjukkan banggaku padamu dan tak pandai berterima kasih padamu. Tapi aku akan selalu menghargai tetesan keringatmu yang kau relakan demi kami. Waktu-waktumu yang kau habiskan tuk mencari nafkah bagi kami.

Aku bangga padamu Ayah. Takkan pernah hilang kebanggaan dan terima kasihku padamu. Meski kau tak pernah tahu karena tak terucap dari bibirku.

Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk mengenang jasa ayah yang selalu mengasihi anak-anaknya meski tak selalu dengan kelembutan yang diberi ibu.

Sunday, September 5, 2010

Tangis Akhir Ramadhan

Ramadhan sudah berkemas hendak tinggalkan labuhan
Siap lambaikan tangan tuk beranjak pergi
Berat hati melepasnya tinggalkanku sendiri
Kupegang erat ujung jubahnya tertahan

Seketika keharuan menyusup dalam renungan
Menyadari diri yang tak antusias dihampiri
Tak terasa hampir satu bulan disinggahi
Ingin rasanya kumemohon kau bertahan

Ya Rabb...masih saja sesal selalu menyeruak
di akhir bulan suci penuh sesal sesak
dalam kalbu karena tak betah ibadahku
dalam hening tak kerap ku alunkan nama suciMu

Adakah jubah takwa untukku?
Adakah firdaus menjadi tempatku?
Akankah kelak kubertemu RasulMu?
Ampuni aku yang selalu jadi hambaMu...

Monday, February 22, 2010

Gadget oh gadget

Kehidupan modern sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Saya ingat di tahun tujuh puluhan ketika masih kecil, orang masih sangat jarang yang memiliki sekedar televisi. Di lingkungan tempat saya tinggal, hanya beberapa orang yang memilikinya. Bukan hal yang aneh jika menumpang nonton di tempat tetangga. Itu pun hanya sekedar televisi hitam putih. Jangan heran karena memang masa itu televisi berwarna bahkan mungkin belum masuk di Indonesia. Baru beberapa tahun kemudian orang-orang mulai memiliki televisi berwarna.

Sambungan telepon juga masih merupakan sesuatu yang mahal. Hanya orang-orang yang tergolong cukup berada yang memilikinya. Pada saat itu bahkan saya hanya bisa melihat pesawat telepon di rumah salah satu kerabat yang merupakan pejabat di kepolisian. Telepon seolah bukan kebutuhan sama sekali.

Saya tiba-tiba merasa terkaget dari lamunan dan ada di alam modern. Sekarang saya sedang menulis blog dengan menggunakan notebook yang terhubung secara nirkabel ke internet. Wew...sesuatu yang bahkan terbayang pun tidak pada masa kecil saya. Dulu saya hanya bisa bermimpi terbang di pesawat luar angkasa Star Trek dengan simulasi teras rumah yang dijadikan pesawatnya.

Kini berbagai gadget tersedia. Ke mana-mana sebagian besar orang ditemani gadget. Paling tidak kita memiliki sebuah ponsel. Bahkan tidak jarang juga yang memiliki dan membawa-bawa lebih dari satu ponsel. Sekarang sambungan telepon bukanlah sesuatu yang mahal lagi. Tidak perlu kaya kalau hanya untuk memiliki dan menggunakan telepon.

Anak-anak modern bahkan tidak lagi gagap teknologi. Berbagai permainan modern sudah menggantikan permainan tradisional. Mereka sudah hidup di dunia gadget yang seolah tidak bisa beraktivitas tanpa itu.

Monday, September 5, 2005

Away from My Son


Until now, it's the first time to be away from my son for such a long time. I have to finish my magister program in MTI UI (hopefully another one semester). He was with me and family in the first and second semester and should be away for his first year study in Palembang. I know he and I both sad with this situation but we don't have better choices.

I keep on thinking of him and can't help calling him on the phone. Boy, I really care about you and miss you every single day. I can't resist my self to wonder what you are doing and what happen to you.

Be a tough boy. I'm sure you can.

Saturday, May 28, 2005

Wireless Charger

About two years ago, I imagine one day people will make a wireless charger and wireless power supply. This discourse I was talking with my friends in  'coffee shop' chat that we often do at lunch or in the court of the mosque before prayers. My friends just smiled and gave a brief comment. Perhaps they already understand it because I often talk about the 'crazy' ideas with a half-joke.

This morning, this thought crossed my mind again. Smoking a cigarette (sorry, forgot to censor - smoking is bad for health) and listening to Led Zeppelin's 'Dazed and his Confused'  through Yahoo! LAUNCHcast Radio, I go to Google and search with keywords "wireless charger". Surprise! there  was already someone that embody these ideas into a product even since 2002 (perhaps earlier). In addition Edison GE  had even made mass PowerDesk. There is also a product called SplashPower similar to PowerDesk. Although not exactly as I imagined at that time but at least my imagination has been come true by the scientists behind these products.

Actually there is another imaginary product that I want to see the flashdisk with Bluetooth connectivity. Flashdisk is worn around the neck with the pairing code which we have loaded. We do not need to plug the flash disk into the USB. Was there any products like this?