Ketika duduk merenung, seringkali terbersit pikiran tentang kenyataan yang ada dalam pendidikan Indonesia, khususnya di Palembang. Sebagai pendidik, ada rasa prihatin mengamati fenomena ini. Suatu fenomena di mana pendidikan tampaknya merupakan sesuatu yang seringkali diprioritaskan oleh orang tua tapi dari sisi peserta didiknya sendiri menjalankan prosesnya (secara umum) belum dengan cara yang sesuai dan mendapatkan hasil yang menggembirakan. Seakan-akan menjalani pendidikan hanya rutinitas yang kurang jelas arahnya.
Saya sempat bertanya kepada beberapa mahasiswa saya tentang alasan mengapa mereka kuliah di program studi tertentu. Sebagian besar tidak dapat memberikan alasan yang mencerminkan tujuan yang jelas. Bahkan ada yang tidak mampu menjawab sama sekali. Bisa jadi tujuan itu belum sempat terpikir sebelumnya oleh yang bersangkutan.
Bagaimana bisa kita berjalan tanpa arah? Bagaimana mungkin mencapai target yang sesuai dengan mata tertutup? Mungkin sebagian orang memiliki kelebihan tertentu yang melebihi orang rata-rata sehingga bisa mengetahui sesuatu tanpa harus melihatnya tapi tidak semua orang begitu.
Menjalani hidup harus memiliki tujuan dan sasaran yang jelas jika ingin mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dengan lebih baik. Untuk mencapai cita-cita dalam arti pilihan profesi di masa depan, kita bisa memikirkannya sebelumnya, membuat rencana, dan menjalaninya sampai tujuan tercapai.
Memang, tidak tertutup kemungkinan adanya peluang yang bisa dimanfaatkan seseorang dalam hidupnya sehingga tanpa pendidikan formal yang memadai bisa menjadi orang yang sukses. Bahkan sebagian orang memandang remeh pendidikan dan menceritakan bahwa dirinya sukses tanpa pendidikan formal yang tinggi. Sebutlah beberapa nama-nama besar yang menguasai bisnis di Indonesia atau di luar negeri. Namun jangan lupa bahwa di belakangnya ada banyak orang yang membantunya untuk menjalankan bisnisnya hingga menjadi besar. Ada banyak orang-orang kompeten yang menjadi pelaksana bisnis yang dibuatnya. Lantas dari mana kompetensi mereka berasal?
Saya agak heran melihat fenomena yang agak kontras antara masa dua dekade lalu ketika saya kuliah di tinggkat strata satu dengan masa sekarang. Kelihatan ada penurunan yang cukup drastis dari sisi kepedulian mahasiswa terhadap kuliahnya. Mahasiswa yang perduli dengan kuliahnya hanya ada di kisaran kurang dari 25% saja. Sebagian besar hanya duduk di ruang kuliah menonton dosennya mengajar. Keterlibatan mahasiswa dalam interaksi ilmiah sangat kurang. Interaksi yang disambut antusias hanya ketika intermezo ringan yang kurang ilmiah saja. Kalau dosennya bercanda maka mahasiswanya akan antusias menanggapi apa yang dibicarakan namun ketika pembahasan kembali ke ranah ilmiah maka kevakuman tanggapan kembali terjadi.
Perlahan saya coba runut apa akar permasalahan yang ada. Dari sisi tingkat kemakmuran masyarakat, tidak ada perbedaan yang menyolok dibandingkan dua dekade lalu. Dari sisi sosial budaya, ada sedikit penurunan dalam hal tatakrama. Dari sisi teknologi, memang ada kemajuan yang signifikan. Sebagian besar masyarakat menjadi pengguna teknologi. Dulu mahasiswa jarang sekali membawa produk teknologi tinggi ke mana-mana. Sekarang berbagai gadget berteknologi tinggi sudah menjadi pelengkap pendukung aktivitas sehari-hari.
Apakah perkembangan teknologi ini yang menjadi penyebab kemunduran mutu mahasiswa? Mestinya justru dengan dukungan teknologi yang lebih mudah diakses dan adanya luapan informasi yang bisa diakses dari mana saja dapat menjadi pendukung kemajuan.
Dua tahun terakhir saya punya pemandangan baru di kampus. Begitu banyak mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas di kampus menggunakan notebook (komputer laptop). Belum lagi mahasiswa yang mengakses internet dari internet corner yang disediakan di STMIK MDP. Tapi sebentar, apa yang sedang dilihat mahasiswa? Apakah para mahasiswa sedang mencari bahan-bahan kuliah atau memperluas wawasan sesuai bidangnya? Ternyata, setelah melihat sebagian besar layar monitor, tampaknya mereka sedang asyik membuka situs jejaring sosial seperti facebook dan ada juga yang sedang asyik memainkan permainan terhubung (online game).
Tidak ada salahnya membuka situs jejaring sosial bahkan aktif menggunakannya. Tidak ada salahnya juga memainkan permainan terhubung. Yang perlu diatur adalah kadarnya. Jika kadarnya berlebihan, mahasiswa bisa kekurangan waktu belajar yang sesuai dengan bidang yang sedang digelutinya.
Ketersediaan akses terhadap informasi yang sekarang mudah didapatkan sebenarnya bisa membawa percepatan kemajuan pendidikan. Kita bisa belajar bahkan tanpa bantuan guru untuk hal-hal tertentu. Jika kita cermat menjelajah internet, ada banyak sekali bahan yang bisa kita pelajari untuk menambah kompetensi kita di berbagai bidang. Sebagai contoh, dengan YouTube saja kita bisa kuliah di mana saja dan mendapatkan pengetahuan teoritis dan contoh praktis akan sesuatu.
Perlu kita sadari bahwa kemajuan pendidikan bisa kita capai jika kita semua perduli. Setidaknya perduli dengan pendidikan kita sendiri, baik formal maupun nonformal. Gunakan alat bantu yang tepat untuk tujuan yang tepat pula.
Saturday, July 10, 2010
Thursday, June 10, 2010
Video Asusila Beredar, Media Massa Bertanggung Jawab
Beberapa hari terakhir ini televisi diramaikan oleh berita-berita beredarnya video asusila yang diperankan oleh pasangan mirip artis (Ariel vs Luna Maya dan Ariel vs Cut Tari). Wartawan berbagai media massa sibuk mengorek keterangan di sana-sini. Mulai dari narasumber pakar, orang-orang dekat artis yang wajahnya mirip pelaku adegan dalam video tersebut, masyarakat, dll.
Berkali-kali dalam tayangan tersebut nama artis yang wajahnya mirip aktor dan aktris dalam video itu disebut-sebut. Masyarakat luas, dari yang belum tahu menjadi tahu keberadaan video tersebut dan penasaran ingin menyaksikannya. Adanya mencarinya di internet serta mengunduhnya, ada juga yang menyalin dari orang lain, dan ada juga yang membeli keping DVD yang berisi video tersebut. Bukan hanya orang dewasa yang melihat dan mendengar tayangan tersebut di televisi, anak-anak pun jadi ikut tahu karena beritanya ditayangkan hampir sepanjang waktu.
Lucunya, media massa kemudian memberitakan bahwa video tersebut tersebar di hampir semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Mereka tidak sadar bahwa yang membuat heboh berita itu adalah kalangan media massa sendiri yang memberitakannya secara besar-besaran. Masyarakat secara umum banyak yang mengetahui keberadaan video itu justru karena menonton tayangan beritanya di televisi atau surat kabar. Media massa turut bertanggung jawab akan kehebohan peredaran video asusila tersebut.
Thursday, April 22, 2010
Buku Pedoman Penulisan Skripsi/TA STMIK MDP
Bagi mahasiswa STMIK MDP yang memerlukan Pedoman Umum Penulisan Skripsi dan TA, bisa ambil di sini.
Tuesday, April 20, 2010
Kartini dalam kenangan
Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia...Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia...
Perjuangan beliau mencerdaskan kaum perempuan kini telah terwujud. Mayoritas perempuan kini telah berpendidikan bahkan sampai ke tingkat pendidikan tinggi. Sudah cukup banyak profesor perempuan di negeri ini.
Kaum perempuan patut bersyukur atas perjuangan beliau. Cita-cita luhur itu kini telah berbuah manis. Tapi selalu ada dua sisi dalam segala hal. Cukup banyak kaum perempuan yang karena pendidikannya yang tinggi, yang karena karirnya yang cemerlang, yang melupakan kodratnya sebagai pendamping suami dan guru bagi anak-anak mereka.
Banyak perempuan yang meninggalkan urusan rumah tangga pada orang lain demi karir yang mereka lakoni. Urusan karir tak jarang menjadi nomor satu dan keharmonisan keluarga menjadi tersisihkan dari prioritas. Anak-anaknya cuma bisa berkumpul dalam arti yang sebenarnya dengan ibu mereka di akhir minggu. Itu pun kalau tidak diinterupsi oleh segala pekerjaan rumah dari kantor dan acara-acara pribadi sang ibu.
Wahai perempuan...suami dan anakmu merindukan dirimu sebagai pilar kokoh dalam rumah. Kalian menjadi guru dan sumber keteduhan dalam rumah tangga.
Perjuangan beliau mencerdaskan kaum perempuan kini telah terwujud. Mayoritas perempuan kini telah berpendidikan bahkan sampai ke tingkat pendidikan tinggi. Sudah cukup banyak profesor perempuan di negeri ini.
Kaum perempuan patut bersyukur atas perjuangan beliau. Cita-cita luhur itu kini telah berbuah manis. Tapi selalu ada dua sisi dalam segala hal. Cukup banyak kaum perempuan yang karena pendidikannya yang tinggi, yang karena karirnya yang cemerlang, yang melupakan kodratnya sebagai pendamping suami dan guru bagi anak-anak mereka.
Banyak perempuan yang meninggalkan urusan rumah tangga pada orang lain demi karir yang mereka lakoni. Urusan karir tak jarang menjadi nomor satu dan keharmonisan keluarga menjadi tersisihkan dari prioritas. Anak-anaknya cuma bisa berkumpul dalam arti yang sebenarnya dengan ibu mereka di akhir minggu. Itu pun kalau tidak diinterupsi oleh segala pekerjaan rumah dari kantor dan acara-acara pribadi sang ibu.
Wahai perempuan...suami dan anakmu merindukan dirimu sebagai pilar kokoh dalam rumah. Kalian menjadi guru dan sumber keteduhan dalam rumah tangga.
Sunday, April 18, 2010
Kamus Bahasa Indonesia
Memiliki kamus bahasa Inggris di rumah adalah hal yang biasa. Sepertinya bukan hal yang istimewa. Justru memiliki kamus bahasa Indonesia sepertinya luar biasa. Cukup jarang orang yang memilikinya dan lebih jarang lagi yang suka membacanya kecuali yang memang menggeluti bidang bahasa Indonesia.
Seringkali kita merasa penguasaan bahasa Indonesia kita sudah bagus. Banyak yang tidak sadar bahwa mereka tidak menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sungguh disayangkan jika kita selaku bangsa Indonesia justru tidak tertarik mempelajari bahasa kita sendiri. Bahkan orang Australia pun mau belajar bahasa Indonesia.
Seringkali kita merasa penguasaan bahasa Indonesia kita sudah bagus. Banyak yang tidak sadar bahwa mereka tidak menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sungguh disayangkan jika kita selaku bangsa Indonesia justru tidak tertarik mempelajari bahasa kita sendiri. Bahkan orang Australia pun mau belajar bahasa Indonesia.
Benarkah "dikarenakan" dalam bahasa Indonesia?
Dalam berbagai penggunaan lisan maupun tertulis, kita sering melihat, mendengar, atau mungkin juga menggunakan kata "dikarenakan". Beberapa waktu lalu saya memeriksa tulisan skripsi mahasiswa saya yang menggunakan kata itu. Meski sering saya temui kata itu digunakan orang namun saya pikir kata itu tidak tepat.
Jika dianalisis, kata tersebut merupakan kata hubung "karena" dan diberi imbuhan "di - kan". Kata hubung tidak pernah digunakan dengan imbuhan. Oleh sebab itu, kata "dikarenakan" merupakan penempatan imbuhan yang salah dalam bahasa Indonesia.
Jika dianalisis, kata tersebut merupakan kata hubung "karena" dan diberi imbuhan "di - kan". Kata hubung tidak pernah digunakan dengan imbuhan. Oleh sebab itu, kata "dikarenakan" merupakan penempatan imbuhan yang salah dalam bahasa Indonesia.
Monday, March 22, 2010
Yahoo Microblogging called 'Mim'
November 2009, Yahoo secara resmi memberikan layanan baru yaitu microblogging yang diberi nama Mim. Layanan ini mirip dengan Twitter namun dengan fitur yang lebih lengkap. Penulisan teks tidak terbatas sampai 140 karakter melainkan 2000 karakter. Di samping itu, kita bisa posting foto, video, maupun audio.
Bagi yang biasa menulis, mengelola blog dengan mengisinya dengan tulisan-tulisan yang agak panjang bukan merupakan masalah. Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang yang tidak biasa menulis agak panjang. Untuk mereka, mikroblog mungkin lebih tepat. Tetap bisa menulis gaya blog tapi dengan tulisan yang pendek.
Bagi yang biasa menulis, mengelola blog dengan mengisinya dengan tulisan-tulisan yang agak panjang bukan merupakan masalah. Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang yang tidak biasa menulis agak panjang. Untuk mereka, mikroblog mungkin lebih tepat. Tetap bisa menulis gaya blog tapi dengan tulisan yang pendek.
Subscribe to:
Posts (Atom)

